Mungkinkah Perbankan Syariah Menyaingi Perbankan Konvensional ?

Mungkinkah perbankan syariah menyaingi perbankan konvensional ? Itulah satu pertanyaan yang berarti banyak untuk perbankan syariah di Indonesia.

Direktur Utama PT Induk Harta Insan Karimah (HIK Induk) Heriyakto Setyo Hartomo memeberikan jawaban atas pertanyaan itu. Ia menjawab “mungkin”.

Dalam pandangannya, perbankan syariah mempunyai peluang atas pangsa pasar yang dikuasai perbankan konvensional. Saat ini pangsa pasar perbankan konvensional sekitar 94 persen.

Jika berkaca dari realita di masyarakat, perbankan syariah dan perbankan konvensional di mata masyarakat hampir tidak memiliki perbedaan. Sebagian motif dari pengguna jasa perbankan melihat bank tidak semata-mata dilihat dari sisi syariah atau tidak, tapi dari sisi operasional, fitur, atribut, produk dan jasa perbankan itu sendiri. Sisi ini lah yang bisa menjadi ruang berkompetisi.

Ia menganalogikan hal itu seperti orang yang ingin membeli mobil dengan memepertimbangkan beberapa penjual. Orang itu akan menggunakan dasar pemikiran rasional, mana yang lebih menguntungkan.

“Oleh karenanya, pangsa pasar perbankan konvensional yang saat ini 94 persen itu menjadi prospek besar. Optimis perbankan syariah itu punya kemungkinan untuk berkompetisi. Bahkan suatu saat, mungkin akan melampaui pangsa pasar perbankan konvensioanl,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Komisaris BPRS HIK Bekasi ini, dalam acara Webinar yang diselenggarakan HIK Induk, Jumat (18/7).

Dalam berkompetisi bank syariah dan bank konvensional, ia mengungkapkan jangan terjebak pada fitur yang paling dasar, yakni harga seprti perang bagi hasil dan perang bunga.

Pria yang disapa Toto ini menyarankan, belajarlah dari perusahaan pembiayaan. Banyak orang pergi ke perusahaan pembiayaan karena kemudahan dan kenyamanan, tidak lagi melihat harga. Selain itu produknya beragam, tidak hanya bergerak di kendaraan bermotor, tapi juga sampai ke properti.

“Artinya, ketika kita menjalankan suatu jurus, jangan dengan cara bersifat klasik, berfikirlah out of the box. Dengan begitu, memungkinkan bank syariah berbicara dengan nasabah, bahwa berhubungan dengan bank syariah itu mendatangkan suatu kerja sama saling membutuhkan, itu yang harus dibangun,” tutur Toto.

Bila kembali dengan cara klasik, akan mengalami kesulitan. Bank syariah hanya akan menjadi pengikut, tidak menjadi pemimpin dalam pasar.

Oleh karenanya, ia mengingatkan tidak boleh terjebak dengan pola pemikiran bersaing dengan bank konvensioanl dari ukuran-ukuran yang biasa dibawakan bank konvensional. Bank syariah haruslah kreatif.

Lebih lanjut, ia menyoroti banyak yang menjalankan bisnis perbankan syariah hanya mengejar pertumbuhan non organik dan mengabaikan tentang koridor kehati-hatian. Padahal yang baik adalah tumbuh secara organik, berkesinambungan dengan tetap menjaga koridor kehati-hatian.

Saat ini juga sudah memasuki era elektronik. Di mana transaski sudah mulai bergesar dari berhadapan dengan manusia, menjadi dengan mesin atau dunia maya. Masa ini patut disikapi dengan baik. Tidak bisa dihindari, harus terjun juga ke era ini.

Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama HIK Induk Wahyu hidayat menyampaikan terkait memperluas pasar bank syariah. Hal yang perlu diperhatikan pertama adalah membedakan pesaing. Kedua, kalau pun bersaing apa mampu.

“Ketika berdiskusi dengan Direktur Utama BPRS HIK Alfi Wijaya, saya perbincangkan, inti persoalannya bisa tidak ya (bank syariah) bersaing. Itu masalahnya, bukan syariah dan non syarahnya, tapi apa yg ditawarkan lebih baik dari pada konvensional. Kalau kita tidak lebih baik dari pada konvensional rasanya berat untuk bersaing itu,” pungkas Wahyu.

Rep. Aldiansyah Nurrahman

Sumber : https://sharianews.com/posts/mungkinkah-perbankan-syariah-menyaingi-perbankan-konvensional