Saudagar Limbah Besi Kotabumi

Di tengah terik matahari, sesosok laki-laki kekar paruh usia tak bergeming. Meski siang itu Kotabumi, Tangerang, panasnya menyengat, namun ia tampak kokoh bagai tembok besi China. Ia bersama dua karyawannya, membantu melayani pengumpul besi-besi bekas yang datang silih berganti. Pribadinya ramah dan pekerja keras. Dialah Yanto Halimin (59) yang biasa dipanggil pak Yan. Ia bersama anaknya dan dibantu saudaranya mengelola bisnis limbah besi dengan bendera PT. Yan’s.

Ia memulai karir bisnisnya sejak 1979 dengan membuka bengkel mobil di Gunung Sari. Setelah itu, ia mencoba peruntungan di bisnis jual beli mobil. Sampai akhirnya tahun 1993, ia memantapkan pilihan membuka bisnis limbah besi yang dipertahankannya sampai saat ini. Berbekal belajar “ilmu limbah besi” dari kakaknya selama 3 (tiga) tahun, ia membuka lapak sendiri di Kotabumi, sampai sekarang. “Awalnya kita main di seng, kaleng, plat dan kita jadikan limbah besi”, begitu katanya.

“Omset 1993 sampai sekarang 2017 tidak jauh beda. Yang beda hanya harga besi per kilonya”, ia menjelaskan. Tahun 1993 harga besi per kilo hanya Rp. 200, sekarang 2017 sudah mencapai Rp. 4000 per kilo. “Rata-rata kami sebulan 2000 ton. Ya, sekitar Rp. 8 miliar”, ia mencoba merinci pendapatan per bulannya. Dari pencapaian omset itulah, ia bisa membuka bisnis barunya lagi di 2013, produksi genteng pasir dan baja ringan yang ia sebut zink-alum. Dengan modal pendapatan bisnis limbah besi pun ia juga bisa membangun bisnis kos-kosan.

“Kami bersyukur, dari limbah besi ini kami bisa menghidupi 20 karyawan dari 3 karyawan di 1993”, tambahnya. Dalam menjaga loyalitas karyawan, Pak Yan menerapkan manajemen “nguwongke” (menghargai, red.) dan perhatian ke karyawan serta keluarganya. Hingga, antara pemilik dan karyawan tidak ada jurang pembatas (gap). Apa yang karyawan butuhkan, termasuk juga para pelanggannya, ia penuhi. Bahkan, katanya, pak Yan sampai berani deposit uang dulu kepada para pangumpul besi-besi bekas agar tidak langsung disetorkan ke pabrik tapi ke PT. Yan’s terlebih dahulu. Inilah resep jitu PT Yan’s untuk mempertahankan para pelanggannya.

Untuk semakin memacu bisnisnya, pak Yan mengajak BPRS HIK bekerja sama. Dari pembiayaan Rp. 150 juta tahun 2005 hingga saat ini telah mencapai Rp. 3.9 miliar. Ini membuktikan bahwa bisnis limbah besi pak Yan makin maju. “HIK itu tidak ribet dan simple, makanya saya sampai sekarang tetap menjadi nasabahnya”, demikian ia menutup pembicaraan kami