Tasripin : Pengusaha Kikil Bermodal Sikil

“Bukan berapa kali Anda jatuh, tapi berapa kali Anda mampu bangkit”, ungkapan ini cocok untuk menggambarkan sosok Tasripin (54 tahun), pengusaha kikil asal Batang Jawa Tengah. Berbekal semangat dan kerja keras meneruskan bisnis kikil keluarganya, akhirnya Tasripin mampu mendirikan perusahaan sendiri yang diberi nama “UD Tujuh Saudara”. Nama ini diambil dari 7 (tujuh) anaknya: 6 (enam) laki-laki dan 1 (satu) perempuan. “Kami ingin tujuh saudara ini bisa untuk hidup dan membiayai sekolah ketujuh anak-anak kami hingga perguruan tinggi”, katanya kepada Tim Redaksi HIK. “Saat ini, masih ada 3 (tiga) anak kami yang belum selesai kuliahnya” tambahnya.
Bisnis kikil (kulit sapi, red.) yang dijalani Tasripin ini dimulai sejak 1992 di Pinangranti, Jakarta Timur. Meski sejatinya bisnis ini sudah dimulai turun-temurun dari kakeknya sejak 1977. Sebelum bisnis kikil, Tasripin usaha serabutan jualan toge dan tahu. Hingga menikah tahun 1986 dan memutuskan fokus ke bisnis kikil. “Di Pekalongan namanya towel, di Solo namanya cecek, dan di Jakarta namanya kikil. Semua sama, hanya beda nama saja”, begitu kata Sumronah (47 tahun) istrinya kepada kami.

Untuk mendapatkan kikil yang enak dan empuk, Tasripin dibantu istri dan anak-anaknya menjaga kualitas olahannya. Mulai dari mendapatkan kulit dari jagal Sapi, lalu dikirim ke Pekalongan untuk dikeringkan kira-kira 5-7 hari dan dikirim lagi ke Jakarta untuk dibasahi, direbus atau digoreng. Setelah jadi, barang dikirim ke 60 meja di pasar-pasar Jakarta Utara, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Ada pula yang diambil sendiri ke rumah. Dari awalnya omset per hari Rp. 15.000 dengan harga kikil per kilo Rp. 800 tahun 1992, sekarang menjadi Rp. 16.500.000 dengan harga kikil per kilo Rp. 16.500 tahun 2016. “Keuntungan bersih kami berkisar 10-20 persen”, kata Sumronah mewakili suaminya.

“Prinsip bisnis kami adalah ikhlas dan selalu percaya sama orang”, kata Tasripin menyakinkan. “Kami pernah ditipu orang ambil kikil senilai Rp. 65 juta saat Ramadhan, dan sampai sekarang tidak juga membayar. Tahu-tahu dapat kabar orangnya sekarang bangkrut. Inilah jalan Allah jika kita ikhlas menjalankannya”, istrinya menambahkan. Bagi Tasripin dan keluarga, bisnis kikil ini adalah sandaran ekonomi keluarganya. “Kami hanya bermodal sikil (kaki, red.) alias semangat dan kerja keras saja. Karena kami sadar bukan dari orang kaya”, jelas Tasripin.

Diakui Tasripin dan istrinya, kehadiran BPRS HIK sejak 2007 sampai sekarang sangat membantu bisnis kikilnya. “Dari pembiayaan awal Rp. 50 juta sampai sekarang sudah mencapai Rp. 700 juta. Kami dan HIK seperti keluarga sendiri karena HIK memberikan layanan jemput bola yang meringankan kami ketika bayar angsuran”, jelas Tasripin. Dengan pengalaman lebih dari 24 tahun inilah, UD Tujuh Saudara ingin fokus pada keunggulan bisnisnya yaitu cara mengolah kikilnya. Tasripin amat menjaga kualitas olahan kikilnya, Ia pun mengundang Dinas Kesehatan untuk memeriksa dan hasilnya Kikil olahan dirinya memenuhi standar kesehatan untuk dikonsumsi. “Banyak pengusaha kikil di Jakarta, namun yang dipercaya konsumen dan mampu bertahan lebih dari 20 tahun tidak banyak”, begitu kata Tasripin menutup pembicaran kami.