Profesor Plastik Dari Telajung

Jalan berkelok kami lalui dari Ciledug menuju pinggiran Kota Bekasi. Tepatnya di Desa Telajung Kecamatan Cikarang Barat Kota Bekasi. Di lokasi terpencil ini, sosok Ucha Verinca (57 tahun) tetap semangat meski di usia senja. “CV Telajung Selaras” yang bergerak di bahan-bahan plastik ia besarkan sejak 20 tahun yang lalu.

Berbekal ikut seorang warga Malaysia, Pak Ucha (begitu ia biasa disapa) ditempa dengan berbagai pengalaman di lapangan. Hingga, mengantarkannya menjadi sosok pengusaha bahan-bahan plastik yang dikenal luas di wilayah Kota Bekasi dan sekitarnya.Beberapa pelanggannya antara lain produsen mesin cuci, sepatu, dashboard mobil sampai lampu hias ia layani. “Kami pernah export sampai ke Taiwan”, begitu kata pak Ucha membuka pembicaraan dengan Tim Redaksi HIK.

“CV Telajung Selaras”, berdiri di 2006. Pada awalnya, pak Ucha dibantu 2 karyawan. Ia mencari orderan sendiri sampai ke luar kota, hingga akhirnya ia mendapatkan order pertama kali sebesar Rp. 5 juta rupiah. Pak Ucha terus belajar sambil bekerja.

Dari proses learning by doing inilah Pak Ucha menguasai puluhan nama-nama bahan plastik seperti: PET (polyethylene terephthalate), HDPE (high density polyethylene), PVC (polyvinyl chloride), LDPE (low density polyethylene), PP (polypropylene) PS (polystyrene) OPP (Oriented Polystyrene) dan lain sebagainya. Sebelum membuka bisnis bahan plastik, pak Ucha pernah membuka warteg, menjadi akuntan, namun tidak lama keluar. Hati dan jiwanya terpanggil untuk berbisnis dan membesarkan “CV Telajung Selaras”.

Ketika Tim Redaksi HIK datang ke kantornya, pak Ucha memperlihatkan kemahirannya mengenali berbagai jenis bahan plastik hanya dengan sebatang korek api yang ia nyalakan. Dengan penciumannya yang tajam, pak Ucha mengenali mana plastik asli, mana plastik campuraan; mana plastik yang sehat dan mana yang berbahaya.

Saat ini rata-rata omset “CV Telajung Selaras” mencapai Rp. 3 milyar per tahun. Dari omset ini, pak Ucha bisa meraih net income sebesar Rp. 50-100 juta per bulan dan menggaji 20 karyawan sistem borongan. “Jika kita maju maka karyawan akan ikut maju” pesan inilah yang sering Pak Ucha sampaikan kepada semua karyawannya. Menurutnya, kehadiran BPRS HIK sangat membantu pengembangan bisnisnya. Terutama untuk pembelian mesin giling plastik. “Selama ini saya sudah mengajukan pembiayaan ke beberapa bank. Saya bersyukur bisa bertemu dengan HIK,” begitu kesannya.

Pak Ucha paham betul dunia bahan-bahan plastik. Ilmu langka ini ia tularkan ke anak sulung laki-lakinya. Agar, kelak bisa meneruskannya. Maka tak heran beberapa orang menyebut Pak Ucha sebagai “Profesor” plastik dari Telajung.